Waktu Aku Diajak Dosen Turun Langsung ke Desa — Pengalaman Nyata Dampingi Pelatihan Wisata di Claket, Mojokerto
Abdul Rohman Agung Gumelar | 30 Juli 2022
Oizz, Halo guys! Pernah ga sih kalian punya momen di masa kuliah yang tiba-tiba bikin kalian sadar, "oh, ternyata ini yang namanya belajar yang sesungguhnya"? Nah, aku punya satu momen kayak gitu. Bukan di kelas, bukan di perpustakaan, tapi di sebuah desa kecil di kaki pegunungan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Waktu itu tahun 2022, aku masih aktif kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya), dan aku mendapat kesempatan yang menurut aku cukup langka — ikut langsung mendampingi dosen dalam sebuah kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Pelatihan Pelaksanaan Tata Kelola Wisata di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Ini cerita lengkapnya, dan aku mau sharing buat kalian yang mungkin juga lagi punya kesempatan serupa — atau sekadar penasaran gimana rasanya terjun ke lapangan langsung bareng dosen dan masyarakat desa.
🌄 Kenapa Desa Claket? Ternyata Desanya Keren Banget, Guys
Waktu pertama denger nama "Desa Claket", jujur aku nggak terlalu tau itu desa kayak gimana. Tapi begitu dapat briefing dari dosen dan mulai baca-baca latar belakangnya, aku langsung mikir — ini desa potensialnya gila banget. Desa Claket yang berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto ini punya segudang kekayaan alam dan wisata yang kalau dikelola dengan benar, bisa jadi destinasi nasional bahkan mancanegara. Di sana ada air terjun yang masih sangat alami, pemandian air panas yang katanya bikin betah berlama-lama, kebun strawberry buat wisata petik buah, kebun bunga krisan yang aesthetic banget kalau difoto, area outbond, sampai jalur pendakian buat yang suka petualangan. Belum lagi oleh-oleh khas desanya yang unik — susu sapi murni dan ketela langsung dari ladang warga. Masalahnya? Desa ini punya semua itu, bahkan sudah punya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terbentuk — tapi pengelolaannya belum rapi, SDM-nya belum dibekali ilmu tata kelola yang terstruktur. Nah, di situlah kenapa kegiatan ini penting banget untuk dilaksanakan.
🚌 Berangkat Jam 06 Pagi dari Surabaya — Iya, Sepagi Itu
Tanggal 30 Juli 2022, kami berangkat dari Surabaya tepat pukul 06.00 pagi. Waktu itu dalam hati aku sempet bercanda, "ini dosen ga kenal yang namanya santai ya?" — hahaha. Tapi nyatanya emang harus sepagi itu karena perjalanan dari Surabaya ke Desa Claket butuh waktu sekitar dua jam, dan kami harus sampai sebelum acara dimulai. Sepanjang perjalanan, pemandangannya makin lama makin berubah drastis — dari jalanan kota Surabaya yang ramai dan padat, perlahan berganti jadi jalan yang diapit sawah hijau, pohon-pohon rindang, dan udara yang kerasa makin segar setiap kali mendekati kawasan Pacet. Ini nih yang paling aku suka dari kegiatan lapangan kayak gini — kamu nggak cuma belajar dari buku atau slide presentasi, tapi kamu beneran merasakan konteks dari topik yang kamu pelajari. Kami tiba di Balai Desa Claket sekitar pukul 08.00 pagi, disambut udara pegunungan yang sejuk dan suasana desa yang tenang banget.
🏠 Pertama Kali Lihat Balai Desanya — Suasananya Bikin Deg-degan
Waktu pertama masuk ke Balai Desa, aku sempet berhenti sebentar dan ngeliatin sekeliling. Suasananya itu... hangat banget. Balai desa yang sederhana, tapi penuh dengan orang-orang yang datang pagi-pagi dengan wajah antusias dan penuh harap. Di sana ada perangkat desa yang sudah rapi bersiap, ibu-ibu PKK yang duduk tertib, pemuda-pemudi Karang Taruna yang energik, pelaku UMKM, sampai pemilik spot wisata yang datang langsung. Total ada 25 peserta yang hadir dari berbagai elemen desa. Dan di situlah aku sadar — ini bukan sekadar kegiatan akademik kampus yang ceremonial. Orang-orang ini meluangkan waktu pagi mereka, datang dari rumah masing-masing, karena mereka beneran pengen desanya maju. Ada rasa tanggung jawab yang tiba-tiba muncul di dada aku waktu itu — semoga kegiatan ini beneran berdampak untuk mereka. Kami langsung mulai persiapan acara pukul 09.00, membantu setting tempat, materi, dan teknis sebelum acara resmi dibuka.
🎙️ Pembukaan Resmi — Momen Simbolisasi yang Bikin Merinding
Tepat pukul 10.00, acara resmi dibuka. Berturut-turut ada sambutan dari Kepala Desa Claket yang menyambut kami dengan hangat dan tulus, lanjut sambutan Kaprodi Sastra Jepang Untag Surabaya selaku Ketua Tim Matching Fund, kemudian sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya. Tapi yang paling berkesan buat aku adalah momen simbolisasi pembukaan Program Matching Fund 2022 — sebuah momen yang secara resmi menandai kolaborasi antara kampus dan Desa Claket. Itu bukan cuma seremonial biasa buat aku. Di balik gestur simbolik itu, ada janji nyata bahwa Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya hadir bukan untuk datang, foto-foto, lalu pulang. Tapi untuk benar-benar mendampingi desa ini berkembang lewat program Matching Fund — hibah pendanaan tahun 2022 yang memang dirancang untuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat. Sebagai mahasiswa yang ikut dalam momen itu, ada kebanggaan tersendiri yang susah aku jelasin dengan kata-kata.
👩🏫 Bu Susiati Naik Panggung — Narasumber yang Beneran Kompeten
[Source : Dokumentasi Pribadi / Kegiatan Matching Fund 2022 Untag Surabaya]
Selesai pembukaan, tibalah momen yang paling aku tunggu-tunggu — sesi pelatihan utama yang berlangsung dari pukul 11.00 sampai 13.00. Narasumber yang dihadirkan bukan sembarangan lho, guys. Beliau adalah Ibu Dra. Susiati, M.M., Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Salah satu wewenang beliau memang langsung membawahi dan memberdayakan Pokdarwis-Pokdarwis desa wisata di seluruh Jawa Timur. Jadi secara jabatan dan pengalaman, beliau benar-benar orang yang paling tepat untuk kegiatan ini. Cara beliau menyampaikan materi juga nggak kaku — beliau paham banget bahwa audiensnya bukan mahasiswa atau akademisi, jadi bahasanya disesuaikan biar semua peserta dari berbagai latar belakang bisa ngerti. Salah satu metode yang diajarkan adalah 5S yang asalnya dari budaya kerja Jepang, yaitu Seiri (Sort/Memilah), Seiton (Straighten/Merapikan), Seiso (Sweep & Clean/Membersihkan), Seiketsu (Systemize/Menstandarisasi), dan Shitsuke (Standardize/Membiasakan). Metode ini awalnya populer di dunia industri, tapi sangat bisa diterapkan di tata kelola destinasi wisata — dari cara merapikan spot wisata, menjaga kebersihan area, sampai membangun sistem yang berkelanjutan.
💬 FGD dan Ngobrol Bareng Warga — Ini Bagian Paling Seru
[Source : Dokumentasi Pribadi / Kegiatan Matching Fund 2022 Untag Surabaya]
Yang bikin sesi pelatihan ini makin hidup adalah bagian Focus Group Discussion (FGD) dan simulasi pelatihan yang melibatkan peserta secara aktif. Di sini semua peserta mulai dari perangkat desa, Pokdarwis, Karang Taruna, ibu-ibu PKK, pelaku UMKM, sampai pemilik spot wisata diajak bicara dan diskusi langsung. Dan yang bikin aku kagum adalah keberanian warga untuk ngomong jujur tentang kondisi desanya. Ada yang cerita soal kendala pengelolaan spot wisata yang belum punya standar, ada yang nanya soal gimana cara promosi wisata yang efektif, ada juga yang share pengalaman pahitnya waktu tamu kecewa karena fasilitas kurang terawat. Diskusi yang terjadi beneran mengalir dua arah bukan hanya narasumber yang ngomong, tapi warga aktif berpartisipasi. Dan justru di situlah nilai sesungguhnya dari kegiatan lapangan kayak gini. Ilmu yang dibawa dari kampus ketemu langsung sama realita di lapangan, dan hasilnya jauh lebih kaya dari sekadar teori di ruang kuliah.
📊 Hasil Pre-Test dan Post-Test — Datanya Jujur dan Cukup Mengejutkan
Salah satu bagian yang paling bikin aku reflektif dari kegiatan ini adalah hasil pre-test dan post-test yang kami lakukan ke 25 peserta. Sebelum pelatihan, peserta diberi pre-test berisi 5 pertanyaan tentang pemahaman tata kelola pariwisata. Hasilnya? Jujur aja cukup kaget — mayoritas besar peserta mendapat skor 0. Dari 25 peserta, hampir semua menjawab "tidak mengetahui" di hampir seluruh soal. Bahkan di soal nomor 5, nol peserta yang menjawab benar. Tapi ini bukan berarti warga desanya kurang — justru ini membuktikan bahwa mereka belum pernah mendapat akses ke pengetahuan tata kelola wisata yang terstruktur sebelumnya. Setelah pelatihan berlangsung, post-test menunjukkan perubahan yang lumayan signifikan. Ada peserta yang langsung dapat skor 100, banyak yang naik ke 80, bahkan yang tadinya 0 pun melonjak jauh. Secara rata-rata akhir (pre+post dibagi 2), hasilnya adalah 60% peserta masuk kategori "belum paham", 36% "sedikit paham", dan 4% "paham". Kesimpulannya? Satu sesi pelatihan memang belum cukup untuk mengubah segalanya — tapi benih itu sudah ditanam, dan dari data itu kami tahu harus gimana merancang tindak lanjutnya.
📋 Rapat Evaluasi Sore — Duduk Bareng Desa, Ngobrol yang Serius
Setelah ishoma, dari pukul 13.30 sampai 14.30, kami mengadakan Rapat Evaluasi dan Koordinasi bersama pihak desa. Di sini suasananya lebih serius — kami duduk melingkar bareng perangkat desa, mendiskusikan temuan dari pelatihan, membahas hambatan yang ada, dan mulai merancang langkah ke depan. Salah satu poin penting yang muncul adalah perlunya program pendampingan yang lebih panjang dan intensif. Rata-rata latar belakang pendidikan warga yang masih di tingkat dasar jadi salah satu faktor yang harus jadi pertimbangan dalam mendesain program pelatihan berikutnya — bukan untuk meremehkan, tapi justru agar metode yang dipakai benar-benar tepat sasaran dan mudah diserap. Ada juga obrolan tentang bagaimana mengintegrasikan potensi wisata yang sudah ada — air terjun, pemandian air panas, kebun strawberry, bunga krisan — dengan sistem pengelolaan yang rapi agar bisa mendukung kawasan segitiga emas Kabupaten Mojokerto yang memang sudah masuk dalam peta pengembangan pariwisata daerah. Rapat itu nggak selesai dengan semua jawaban, tapi dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tepat — dan itu sudah cukup jadi modal awal yang bagus.
🌅 Perjalanan Pulang dan Hal yang Aku Bawa Sampai Sekarang
Pukul 14.30, kami pamit dari Balai Desa Claket dan mulai perjalanan kembali ke Surabaya. Di dalam kendaraan, aku duduk diem sebentar, ngeliatin pemandangan Pacet yang hijau perlahan menjauh dari kaca jendela. Dan banyak hal yang aku bawa pulang dari hari itu — bukan barang bawaan di tas, tapi pelajaran yang nggak bakal bisa aku dapat dari bangku kuliah mana pun. Bahwa pengabdian masyarakat bukan charity, itu kolaborasi. Bahwa ilmu yang nggak ketemu sama realita lapangan itu cuma setengah hidup. Dan bahwa sebuah desa kecil di kaki gunung Pacet punya impian yang sama besarnya kayak kita — untuk dikenal, untuk maju, untuk sejahtera. Buat kalian yang lagi kuliah dan ada kesempatan ikut kegiatan lapangan kayak gini, jangan skip ya. Jangan alesan capek, jangan alesan males. Karena momen-momen inilah yang akhirnya jadi cerita yang kalian inget bertahun-tahun kemudian — bukan nilai ujian yang kalian hafalin semalam sebelum UAS. Semoga Desa Claket terus berkembang, dan semoga perjalanan kecil di 30 Juli 2022 itu jadi bagian kecil dari perjalanan panjang desa yang luar biasa ini. 🙏
Kalau tulisan ini bermanfaat atau relate sama pengalaman kalian, share ke teman-teman kalian ya! Dan kalau kalian punya cerita lapangan yang seru juga, tulis di kolom komentar — aku penasaran banget! 👇
Source : Laporan Kegiatan Pelatihan Pelaksanaan Tata Kelola Wisata, Prodi Sastra Jepang FIB Untag Surabaya, 30 Juli 2022. Rekayasa Sosial Tata Kelola Pariwisata, Prodi Sastra Jepang FIB Untag Surabaya, 2022.



