Prinsip Desain yang Paling Sering Dilanggar oleh Pemula (dan Mengapa Ini Terjadi)

Resource : Unsplash

Pernahkah Anda melihat sebuah desain yang sekilas terlihat “ramai”, sulit dibaca, atau terasa tidak nyaman dilihat—padahal elemen yang digunakan sebenarnya menarik?

Fenomena ini sering terjadi, terutama pada karya desainer pemula.

Bukan karena kurang kreatif, tetapi karena prinsip dasar desain sering kali diabaikan atau belum dipahami secara menyeluruh.

Dalam dunia desain grafis, kreativitas tanpa prinsip ibarat membangun rumah tanpa fondasi. Sekilas mungkin tampak unik, tetapi tidak kokoh dan sulit berkembang. Artikel ini akan membahas prinsip desain yang paling sering dilanggar oleh pemula, alasan mengapa hal ini terjadi, serta bagaimana cara memperbaikinya secara bertahap.



Mengapa Prinsip Desain Sangat Penting?

Prinsip desain berfungsi sebagai bahasa visual universal. Ia membantu pesan tersampaikan dengan jelas, emosi terbentuk dengan tepat, dan audiens merasa nyaman saat berinteraksi dengan desain.

Tanpa prinsip yang tepat:

  • Pesan visual menjadi ambigu
  • Audiens cepat lelah melihat desain
  • Nilai profesional sebuah karya menurun

Ironisnya, banyak pemula langsung fokus pada software, efek visual, atau tren—tanpa memahami dasar yang justru menentukan kualitas desain jangka panjang.


1. Hierarki Visual yang Tidak Jelas

Salah satu kesalahan paling umum adalah semua elemen terlihat sama pentingnya.

Judul, subjudul, dan isi teks sering dibuat dengan ukuran, warna, atau gaya yang hampir seragam. Akibatnya, mata pembaca tidak tahu harus mulai dari mana.

Dampak yang Terjadi:

  • Informasi sulit dipindai
  • Pesan utama tenggelam
  • Desain terasa melelahkan

Hierarki visual seharusnya membantu audiens membaca desain secara alami, dari elemen paling penting hingga detail pendukung.


2. Terlalu Banyak Jenis Font dalam Satu Desain

Banyak pemula mengira semakin banyak font, desain akan terlihat lebih kreatif. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.

Menggunakan terlalu banyak font membuat desain:

  • Terlihat tidak konsisten
  • Mengurangi keterbacaan
  • Terasa amatir

Dalam praktik profesional, satu hingga dua jenis font (maksimal tiga) sudah lebih dari cukup, selama digunakan dengan variasi ukuran dan ketebalan yang tepat.


3. Warna Digunakan Tanpa Konsep yang Jelas

Kesalahan berikutnya adalah pemilihan warna berdasarkan “selera pribadi” semata, bukan berdasarkan fungsi atau psikologi warna.

Masalah yang sering muncul:

  • Kontras terlalu rendah
  • Warna terlalu mencolok
  • Tidak konsisten dengan brand atau pesan

Warna seharusnya membantu komunikasi, bukan mengalihkan perhatian.


4. Tidak Memahami Ruang Kosong (White Space)

Banyak pemula takut dengan ruang kosong. Akibatnya, setiap area desain diisi elemen, teks, atau ornamen.

Padahal, white space adalah elemen desain, bukan ruang terbuang.

Tanpa ruang kosong:

  • Desain terasa sesak
  • Fokus visual hilang
  • Pesan sulit dipahami

White space membantu mata beristirahat dan mempertegas elemen penting.


5. Alignment yang Berantakan

Alignment atau perataan elemen sering dianggap detail kecil, padahal sangat berpengaruh terhadap kesan profesional.

Kesalahan umum:

  • Teks tidak sejajar
  • Elemen “meloncat-loncat”
  • Tidak mengikuti grid

Alignment yang baik menciptakan keteraturan visual dan meningkatkan kepercayaan audiens terhadap desain.


6. Mengikuti Tren Tanpa Memahami Konteks

Tren memang penting, tetapi menirunya tanpa memahami tujuan desain bisa menjadi bumerang.

Beberapa desain gagal karena:

  • Tren tidak sesuai target audiens
  • Desain cepat terlihat usang
  • Fokus pada gaya, bukan pesan

Desain yang baik selalu menempatkan fungsi dan konteks di atas tren semata.


7. Terlalu Fokus pada Estetika, Lupa Tujuan

Desain bukan sekadar “terlihat bagus”. Ia harus menyelesaikan masalah komunikasi.

Banyak pemula terjebak pada:

  • Efek berlebihan
  • Ornamen tidak relevan
  • Visual yang mengalahkan pesan

Pertanyaan penting yang sering terlewat:

“Apa tujuan desain ini?”


Mengapa Kesalahan Ini Terus Terjadi?

Kesalahan-kesalahan di atas umumnya muncul karena:

  • Belajar desain secara otodidak tanpa dasar teori
  • Terlalu mengandalkan template
  • Fokus pada software, bukan konsep
  • Kurangnya evaluasi dan feedback

Namun, kabar baiknya: semua ini bisa diperbaiki.


Solusi: Cara Memperbaiki Prinsip Desain Secara Bertahap

Berikut langkah praktis agar Anda tidak terus mengulang kesalahan yang sama:

1. Kuasai Prinsip Dasar Sebelum Efek

Pelajari hierarki, kontras, alignment, repetisi, dan white space sebelum bermain efek visual.

2. Batasi Elemen dalam Satu Desain

Lebih sedikit elemen = lebih jelas pesan.

3. Gunakan Sistem (Grid & Style Guide)

Grid membantu konsistensi, style guide membantu identitas visual.

4. Biasakan Bertanya “Mengapa?”

Setiap warna, font, dan elemen harus punya alasan.

5. Evaluasi Karya Desainer Profesional

Bukan untuk meniru, tetapi untuk memahami pola berpikir mereka.

6. Minta Feedback dan Terbuka pada Kritik

Feedback adalah bagian penting dari proses belajar desain.


Penutup

Melanggar prinsip desain bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Yang membedakan desainer pemula dan desainer profesional adalah kesadaran untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Dengan memahami prinsip desain secara mendalam, Anda tidak hanya menciptakan visual yang menarik, tetapi juga desain yang berfungsi, bermakna, dan profesional.

Jika Anda merasa desain Anda “sudah bagus tapi masih terasa kurang”, mungkin jawabannya ada pada prinsip-prinsip yang selama ini terlewat.

Dan di situlah perjalanan desain yang sesungguhnya dimulai.