Upgrade Diri Melalui Organisasi Kampus

 

Bukan Sekadar Rapat: Ketika Aku Jadi Suara Mahasiswa di DPM FIB Untag Surabaya

  

[Source : Dokumentasi Pribadi / Kegiatan Anggota DPM FIB]

Organisasi mahasiswa di fakultas — kedengarannya biasa. Tapi yang terjadi di balik sidang, forum, dan tumpukan dokumen itu jauh lebih nyata dari yang orang bayangkan.


Ada satu momen yang sampai sekarang masih aku ingat dengan jelas. Seorang mahasiswa semester tiga datang ke sekretariat dengan wajah frustrasi — dia baru saja pulang dari kantor fakultas untuk ketiga kalinya, masih dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang belum tuntas. Masalahnya sederhana: dia mau ikut program MBKM di luar kampus, tapi nggak ada yang menjelaskan soal mekanisme surat izin dan konversi nilainya. Bukan karena sistemnya nggak ada, tapi karena nggak ada yang benar-benar duduk menemaninya memahami prosesnya. Di momen itulah aku sadar — bergabung dengan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Ilmu Budaya Untag Surabaya bukan soal punya jabatan di struktur organisasi. Ini soal memastikan nggak ada mahasiswa yang merasa sendirian ketika berhadapan dengan sistem.


Apa itu DPM dan Kenapa Aku Pilih Ini?

Sebelum masuk ke cerita lapangannya, aku mau luruskan dulu satu hal yang sering disalahpahami soal DPM — karena bahkan banyak mahasiswa di fakultas sendiri yang nggak tahu bedanya.

DPM adalah singkatan dari Dewan Perwakilan Mahasiswa, dan kalau kamu mau analogi yang paling mudah: DPM itu "parlemen"-nya mahasiswa di tingkat fakultas. Bukan yang bikin acara, bukan yang ngurus konsumsi seminar — itu urusan BEM. DPM fokus di fungsi yang berbeda: legislasi, pengawasan, dan aspirasi. Kami yang menyusun aturan internal organisasi mahasiswa, mengawasi apakah program-program BEM berjalan sesuai proposal, memastikan anggaran kegiatan digunakan dengan benar, dan yang paling penting — menjadi saluran resmi bagi mahasiswa untuk menyampaikan suara mereka ke pihak fakultas. Di Komisi II — Aspirasi & Advokasi, posisi yang aku emban selama periode 2023 sampai 2024, tugasku lebih spesifik lagi: jadi jembatan antara mahasiswa dan dekanat. Dan ternyata, jembatan itu jauh lebih sibuk dari yang aku kira.


Hari Pertama Rapat — Ternyata Nggak Sesimpel Kelihatannya

[Source : Dokumentasi Pribadi / Kegiatan Anggota DPM FIB]

Waktu pertama kali datang ke rapat pleno DPM sebagai anggota resmi, aku sempat mikir ini bakal berjalan sangat formal dan kaku. Bayangan aku: meja panjang, tumpukan dokumen, pembahasan panjang yang penuh jargon hukum dan prosedur. Dan jujur, sebagian besar bayangan itu benar. Tapi yang nggak aku duga adalah betapa dinamisnya ruangan itu ketika sudah masuk ke isi pembahasannya. Di sesi orientasi awal, kami langsung dibagi fungsi dan tanggung jawab masing-masing komisi, dijelaskan soal alur kerja pengawasan, mekanisme penerimaan aspirasi, dan jadwal rutin yang harus kami pegang: rapat koordinasi mingguan, sidang program kerja per semester, monitoring berkala ke organisasi lain di fakultas, dan forum aspirasi yang terbuka untuk semua mahasiswa FIB. Aku dengerin semua itu sambil dalam hati cuma bisa mikir satu hal — ini bukan sekadar "aktif organisasi" buat ngisi CV. Ini kerja beneran.


Di Balik Forum Aspirasi — Saat Aku Belajar Mendengarkan dengan Sungguh-sungguh

Salah satu tugas inti Komisi II adalah membuka dan mengelola forum aspirasi mahasiswa — wadah resmi di mana mahasiswa FIB bisa menyampaikan keluhan, usulan, atau pertanyaan soal hal-hal akademik maupun non-akademik di lingkungan fakultas. Kedengarannya simpel — duduk, dengerin, catat. Tapi di lapangan, setiap sesi forum punya dinamikanya sendiri. Ada yang datang dengan masalah yang sudah lama mengganjal tapi nggak tahu harus lapor ke mana. Ada yang mau menyampaikan keluhan soal kebijakan perkuliahan tapi takut dianggap berlebihan. Ada juga yang datang bukan karena punya masalah, tapi karena mau tahu apakah suara mereka benar-benar didengar atau hanya masuk angin. Dari semua sesi itu, satu hal yang paling banyak aku latih bukan soal teknis prosedur — tapi kemampuan mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi atau langsung menawarkan solusi. Kadang yang paling dibutuhkan orang itu cuma merasa bahwa ceritanya diterima dulu, baru kemudian dibantu cari jalan keluarnya.


Mengawal Isu Akademik — Pekerjaan yang Terlihat Administratif tapi Berdampak Nyata

Selain forum aspirasi, aku juga aktif di pengawalan isu-isu akademik dan non-akademik yang masuk ke Komisi II — dan ini bagian yang diam-diam paling mengajarkan aku soal bagaimana sistem bekerja dari dalam. Tugasnya secara garis besar adalah mendokumentasikan setiap aspirasi yang masuk, memilah mana yang perlu ditindaklanjuti ke dekanat, mana yang bisa diselesaikan di tingkat organisasi, dan menyusun laporan aspirasi secara berkala sebagai bahan rekomendasi kebijakan. Isu yang paling sering masuk ke meja kami berkisar soal kejelasan prosedur akademik, keterbatasan akses informasi program luar kampus, sampai kebijakan konversi nilai yang nggak semua mahasiswa pahami. Dan dari sana aku belajar bahwa masalah di kampus itu jarang sekali soal "nggak ada sistemnya" — lebih sering soal "sistemnya ada, tapi nggak semua orang tahu cara mengaksesnya."


MBKM dan Konversi Nilai — Ketika Aku Membantu Membukakan Jalan yang Sudah Ada

Ini bagian yang paling aku banggakan selama menjabat di Komisi II, dan sekaligus yang paling konkret dampaknya. Waktu program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) mulai ramai diikuti mahasiswa FIB — mulai dari Kampus Mengajar, magang bersertifikat, sampai pertukaran pelajar — banyak dari mereka yang bingung soal dua hal: surat izin resmi dari fakultas dan mekanisme konversi nilai. Prosesnya sebenarnya sudah ada, tapi tersebar di beberapa pihak dan nggak selalu mudah dijangkau mahasiswa yang baru pertama kali ikut. Di situlah kami masuk — membantu mengidentifikasi alur yang tepat, memfasilitasi komunikasi antara mahasiswa dengan pihak akademik, dan memastikan setiap mahasiswa yang ikut program MBKM bisa mendapatkan surat izin resmi dan konversi nilai yang setara tanpa harus berputar-putar sendiri. Momen ketika menerima kabar dari mahasiswa yang akhirnya berhasil mendapat pengakuan SKS untuk kegiatan lapangannya — itu rasanya jauh lebih memuaskan dari nilai ujian manapun.


Sidang dan Musyawarah — Ketegangan yang Justru Mendidik

Satu hal yang bikin pengalaman di DPM terasa sangat berbeda dari organisasi lain adalah intensitas sidang dan musyawarah yang menjadi bagian rutin kerja kami. Ini bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari membaca buku — kamu harus duduk di sana, merasakan tegangnya ruangan waktu LPJ sebuah organisasi dipertanyakan, atau panjangnya Musyawarah Besar yang kadang berakhir jauh melewati waktu yang direncanakan. Aku ikut dalam sidang LPJ, sidang program kerja, rapat koordinasi Orkem, sampai proses pemilihan dan pelantikan pengurus baru. Dan setiap prosesnya selalu ada dinamika tersendiri — ada yang debat keras soal program yang nggak berjalan, ada yang mempertanyakan penggunaan anggaran, ada juga yang diam tapi ekspresinya bilang banyak hal. Di sinilah aku belajar bahwa forum formal bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tapi tentang siapa yang tahu kapan harus bicara, apa yang perlu dikatakan, dan bagaimana menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima semua pihak.


Tantangan yang Nggak Pernah Diceritakan di Pamflet Rekrutmen

Kalau aku jujur, ada banyak momen di mana kerja di Komisi II itu nggak mudah. Ada aspirasi yang sudah kami angkat berulang kali tapi responsnya lambat. Ada mahasiswa yang awalnya semangat mau menyampaikan keluhan, tapi tiba-tiba menarik diri karena takut dampaknya ke hubungan mereka dengan dosen. Ada juga miskomunikasi antara apa yang kami sampaikan ke dekanat dengan apa yang akhirnya disampaikan balik ke mahasiswa. Frustasi? Pasti. Tapi justru dari momen-momen itu aku sadar bahwa advokasi itu bukan pekerjaan yang hasilnya selalu kelihatan di hari yang sama. Advokasi itu kerja bertahap — menanam kepercayaan sedikit demi sedikit, membangun saluran komunikasi yang konsisten, dan tidak menyerah ketika satu pintu tertutup karena selalu ada cara lain untuk menyampaikan pesan yang sama.


Komunikasi ke Dekanat — Belajar Bicara di Forum yang Tepat

Salah satu bagian yang paling menantang sekaligus paling mendidik adalah ketika harus membawa aspirasi mahasiswa langsung ke hadapan pihak dekanat. Ini bukan hal yang otomatis mudah — terutama untuk mahasiswa yang mungkin belum terbiasa berkomunikasi di forum resmi dengan para dosen dan pejabat struktural. Tapi posisi di DPM menempatkan kami persis di sana, dan itu mengajarkan banyak hal soal cara menyampaikan aspirasi dengan bahasa yang tepat, data yang cukup, dan nada yang tetap sopan tapi tidak kehilangan ketegasan. Aku belajar bahwa komunikasi ke atas itu seni tersendiri: kamu perlu tahu kapan harus push, kapan perlu mundur dan cari strategi lain, dan kapan harus dengan jelas menyampaikan bahwa "ini bukan soal satu mahasiswa, ini soal kepentingan banyak orang yang nggak punya akses langsung ke meja ini."


Satu Periode Penuh — Yang Aku Bawa Pulang Setelah Semua Ini


[Source : Dokumentasi Pribadi / Kegiatan Anggota DPM FIB]

Di akhir periode jabatan, kalau ditanya apa yang paling aku bawa pulang dari satu tahun lebih di DPM FIB Untag Surabaya, jawabannya bukan soal sertifikat atau poin tambahan di CV. Yang paling berkesan adalah perubahan cara aku melihat masalah. Aku jadi lebih terbiasa bertanya "kenapa ini terjadi dan sistem apa yang perlu berubah?" daripada berhenti di "ini memang sudah begitu dari dulu." Aku juga jadi jauh lebih sabar dalam mendengarkan — dan ternyata itu salah satu skill yang paling langka sekaligus paling berharga, baik di dalam organisasi maupun di kehidupan setelah kampus. Kemampuan advokasi, manajemen konflik, menulis laporan dan rekomendasi kebijakan, sampai cara membangun kepercayaan satu per satu — semua itu terbentuk bukan dari pelatihan satu hari, tapi dari pengalaman nyata yang datang setiap minggu selama periode itu.


Pesan untuk Kamu yang Lagi Nimbang-nimbang

Kalau kamu sekarang lagi mempertimbangkan mau masuk organisasi atau tidak — atau bingung pilih yang mana — aku nggak akan bilang DPM cocok untuk semua orang. Tapi kalau kamu tipe yang lebih suka kerja di belakang layar daripada di atas panggung, yang tertarik memastikan sesuatu berjalan dengan benar daripada sekadar terlihat keren, dan yang punya semangat untuk jadi jembatan antara yang tidak punya suara dengan yang punya kewenangan — mungkin DPM adalah tempatmu. Karena pada akhirnya, perubahan yang paling terasa bukan selalu yang paling viral. Kadang cukup satu forum yang berjalan dengan jujur, satu surat izin yang berhasil keluar tepat waktu, satu mahasiswa yang akhirnya berani menyampaikan keluhannya — dan itu, menurutku, sudah lebih dari cukup.


Penasaran soal detail kegiatan DPM atau mau tanya soal pengalaman organisasi di FIB Untag? Bisa langsung DM aku di Instagram @abroag_ — dengan senang hati aku ceritain lebih banyak!

Tags: Organisasi Kampus | DPM | Orkem | FIB Untag Surabaya | Artikelku